Dunia farmasi modern saat ini tengah menghadapi tantangan peningkatan beban kerja dengan sumber daya yang terbatas, sehingga manajemen waktu dan kepatuhan prosedural menjadi faktor kritis dalam menjamin keselamatan pasien dan mutu pelayanan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk memahami secara mendalam fenomena keterlambatan penyelesaian resep di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Tarumajaya melalui interaksi sosial, perilaku kerja, dan konteks organisasi. Responden ialah apoteker/tenaga teknis kefarmasian/ administrasi farmasi Teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulatif, meliputi observasi partisipatif dan wawancara. Metode analisis data terdiri atas tiga tahapan utama yaitu reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara mendalam ditemukan bahwa standar pelayanan kefarmasian secara formal telah diterapkan, tetapi belum dijalankan secara konsisten pada jam sibuk. Seluruh apoteker memahami alur pelayanan resep sesuai standar operasional prosedur, namun dalam praktik sering terjadi penggabungan tahapan, penghilangan pemeriksaan ulang, dan tidak dilakukannya pencatatan HTKP (harga, timbang, kemas, penyerahan) ketika beban kerja meningkat. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara standar operasional prosedur formal dan praktik kerja aktual di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Tarumajaya. Keterbatasan sumber daya kefarmasian menjadi penyebab utama keterlambatan penyelesaian resep. Jumlah apoteker dan tenaga teknis kefarmasian tidak sebanding dengan volume resep harian yang mencapai ±313 resep. Rasio apoteker terhadap jumlah pasien rawat inap dan rawat jalan belum memenuhi ketentuan Permenkes No. 72 Tahun 2016, sehingga menyebabkan beban kerja tinggi dan terjadinya kemacetan terutama pada tahap skrining dan penyaluran.
Copyrights © 2026