Artikel ini mengkaji makna teologis nama Allah “Aku adalah Aku” (Ehyeh Asher Ehyeh) dalam Keluaran 3:1–15 serta implikasinya bagi pembentukan identitas diri manusia modern. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan biblika-teologis melalui analisis historis-gramatikal terhadap teks Ibrani dan refleksi teologis-kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nama Allah tersebut memiliki tiga dimensi utama, yakni ontologis (Allah sebagai keberadaan yang mandiri dan kekal), historis-redemptif (Allah yang bertindak membebaskan dalam sejarah), dan relasional (Allah yang hadir serta setia dalam perjanjian). Dalam konteks modernitas dan pascamodernitas yang ditandai oleh individualisme dan relativisme identitas, teologi nama Allah menawarkan fondasi eksistensial yang kokoh. Identitas manusia dipahami bukan sebagai konstruksi otonom, melainkan sebagai respons terhadap wahyu Allah. Dengan demikian, pengenalan akan Allah sebagai “Aku adalah Aku” memberikan dasar spiritual dan etis bagi pembentukan identitas yang utuh dan bermakna.
Copyrights © 2025