Penelitian ini mengkaji self-healing sebagai proses komunikasi untuk menangani stres akademik di kalangan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Halu Oleo. Melalui pendekatan kualitatif fenomenologi yang melibatkan wawancara mendalam dan observasi, ditemukan bahwa self-healing memiliki sifat multidimensional dan adaptif. Proses ini mencakup me-time, mindfulness, journaling, aktivitas fisik, praktik spiritual, dan interaksi positif dengan orang lain. Mahasiswa juga menggabungkan emotion-focused coping untuk meredakan emosi dan problem-focused coping untuk menanggulangi sumber stres. Dukungan dari teknologi digital, seperti aplikasi meditasi, konten motivasi, dan media sosial, juga berperan dalam praktik ini. Selain itu, budaya dan religiositas turut memperkuat resiliensi individu. Oleh karena itu, self-healing diakui sebagai strategi komunikasi dan konstruksi makna yang menekankan pentingnya dukungan sosial, literasi digital, dan lingkungan kampus yang sehat untuk kesejahteraan mahasiswa
Copyrights © 2026