Dusun Plampang, Desa Klekehan, Kecamatan Botolinggo, Kabupaten Bondowoso merupakan wilayah pertanian palawija yang masih mengandalkan sistem tadah hujan sehingga rentan mengalami kekurangan air pada musim kemarau. Penelitian ini bertujuan menganalisis ketersediaan air hujan dan kebutuhan air irigasi sebagai dasar perencanaan embung tadah hujan serta menilai potensi dampak ekonominya bagi petani. Metode penelitian meliputi analisis curah hujan, perhitungan limpasan permukaan dengan luas daerah tangkapan A = 144.829 m² dan koefisien limpasan C = 0,4, perhitungan hujan langsung ke embung dengan asumsi luas embung 5% dari daerah tangkapan, serta penyusunan neraca air berdasarkan kebutuhan air tanaman palawija (jagung, kacang tanah, dan singkong). Hasil analisis menunjukkan total ketersediaan air hujan tahunan sebesar 95.869,55 m³/tahun yang berasal dari limpasan permukaan dan hujan langsung ke embung. Berdasarkan hasil neraca air, diperoleh defisit maksimum sebesar 1.500 m³, sehingga kapasitas tampungan total embung yang direncanakan adalah 2.335,5 m³ dengan mempertimbangkan kehilangan akibat penguapan, resapan, dan sedimentasi. Kapasitas tersebut diterjemahkan ke dalam denah geometrik embung dengan dimensi panjang sekitar 35 m, lebar sekitar 13,5 m, dan tinggi sekitar 5 m, yang disesuaikan dengan kondisi topografi dan kontur lahan. Embung direncanakan untuk melayani lahan pertanian palawija seluas 8,69 ha. Secara ekonomi, dengan produktivitas rata-rata ±5,51 ton/ha per musim, keberadaan embung berpotensi mendukung hasil panen sekitar 47–48 ton per musim, sehingga mampu meningkatkan stabilitas produksi, menekan risiko gagal panen, dan mendukung peningkatan pendapatan petani pada musim kemarau.
Copyrights © 2026