Ketersediaan stok darah merupakan komponen krusial dalam sistem pelayanan kesehatan, namun partisipasi masyarakat di wilayah urban seperti Surabaya masih di bawah target 2% populasi. Kelurahan Kebonsari memiliki potensi risiko kesehatan yang tinggi, namun peran Karang Taruna dalam donor darah masih bersifat insidental dan terhambat oleh rendahnya literasi kesehatan. Sebanyak 70% pemuda awalnya memiliki ketakutan terhadap jarum suntik dan mitos kesehatan. Tujuan pengabdian ini adalah membangun ekosistem donor darah berkelanjutan melalui pemberdayaan 20 stakeholder kunci Karang Taruna Kebonsari. Metode yang digunakan adalah Training of Trainers (ToT) dan Focus Group Discussion (FGD) yang meliputi tahap baseline survei, intervensi edukasi intensif, dan pembentukan database digital. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan literasi kesehatan peserta secara signifikan dengan rata-rata kenaikan skor sebesar 48,3%, di mana pemahaman syarat medis meningkat dari 35% menjadi 90%. Seluruh peserta (100%) menyatakan komitmen tertulis sebagai pendonor tetap dan pionir edukasi di tingkat RT/RW. Luaran program berupa Buku Pedoman Mitra dan sistem database "Kartu Donor Rutin" menjadi fondasi kemandirian stok darah di Kelurahan Kebonsari. Kesimpulannya, hambatan utama donor darah adalah masalah persepsi yang dapat dimitigasi melalui edukasi kelompok kecil yang intensif bagi kader kepemudaan.
Copyrights © 2025