Latar belakang: Pengalaman traumatis di usia dini, termasuk pengabaian, penelantaran, atau stres emosional, telah berulang kali terbukti dalam penelitian memiliki dampak besar pada perilaku keterikatan individu di masa dewasa. Pengalaman menyakitkan masa kanak-kanak ini mungkin muncul dalam hubungan dewasa sebagai gaya keterikatan yang tidak aman (keterikatan cemas, menghindar, atau keterikatan campuran) dan mempengaruhi bagaimana mereka membangun keintiman dengan orang lain. Metode: Tinjauan naratif ini dilakukan menggunakan basis data Google Scholar dan ScienceDirect dengan kata kunci “childhood wound AND attachment styles AND adult intimacy” dan “childhood wound AND adult intimacy”. Artikel yang diterbitkan antara tahun 2010 dan 2025 diekstraksi dan dianalisis. Sumber tambahan ditambahkan saat meninjau referensi artikel yang relevan. Total 7 artikel memenuhi kriteria inklusi. Hasil: 7 (tujuh) artikel yang disertakan berasal dari Asia, Amerika Utara, dan Oceania yang terdiri dari 6 (enam) artikel kuantitatif dan 1 (satu) artikel kualitatif yang terbit pada 2010 (n=1), 2014 (n=1), 2019 (n=1), 2020 (n=1), 2023 (n=1) dan 2024 (n=2). Tiga tema disimpulkan dalam diskusi, yaitu isu psikologis dan peran profesional kesehatan, kualitas hubungan serta dampak pada peran sebagai orangtua. Skrining rutin terkait adverse childhood experiences (ACEs) dan attachments, diikuti dengan intervensi trauma-informed, attachment-informed dan peningkatan regulasi diri perlu dilakukan untuk mengubah insecure attachment menjadi secure attachment. Kesimpulan: Penelitian lanjutan tentang hubungan antara trauma masa kanak-kanak, gaya keterikatan, dan intimasi dewasa non-romantis perlu dieksplorasi lebih lanjut, termasuk pembuktian dan generalisasi intervensi yang direkomendasikan dari studi terdahulu.
Copyrights © 2025