Konflik antara Palestina dan Israel yang meningkat sejak Oktober 2023, menyebabkan terjadinya krisis kesehatan yang parah, khususnya di Jalur Gaza. Krisis kesehatan tersebut meliputi; berbagai kerusakan infrastruktur kesehatan, akses terhadap kesehatan terbatas, peningkatan penyakit baik yang menular dan yang tidak menular, dan tingginya korban sipil akibat konflik. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau dampak bantuan World Health Organization (WHO) dalam menangani krisis kesehatan di Palestina selama periode 2023–2025 dan menganalisis peran WHO sebagai salah satu aktor internasional dalam melaksanakan diplomasi kesehatan global. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan menggunakan konsep diplomasi kesehatan global sebagai kerangka analisisnya. Data yang terkumpul dilakukan melalui tinjauan literatur, dokumen resmi, serta data sekunder dari jurnal ilmiah, laporan media, dan data statistik kesehatan lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bantuan dari WHO berpengaruh dalam mempertahankan layanan kesehatan dasar, menahan penyebaran penyakit, mengatasi kekurangan gizi, dan memperkuat sistem pemantauan kesehatan di tengah konflik. Sementara itu, sebagai aktor diplomasi kesehatan global, WHO aktif menyuarakan krisis tersebut untuk meningkatkan akses terhadap bantuan dan menyerukan gencatan senjata. Namun, efektivitas bantuan WHO masih terbatas oleh hambatan politik, blokade teritorial, dan kompleksitas kepentingan geopolitik internasional. Penelitian ini menyimpulkan bahwa WHO memainkan peran penting dalam mengatasi krisis kesehatan di Palestina, tetapi membutuhkan dukungan multilateral yang lebih kuat untuk memaksimalkan dampak bantuannya.
Copyrights © 2026