Tuberkulosis (TBC) hingga kini masih menjadi salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia dan telah ditetapkan sebagai kedaruratan kesehatan global oleh World Health Organization (WHO). Indonesia merupakan negara dengan beban TBC tertinggi kedua di dunia, sehingga membutuhkan strategi penanggulangan yang tidak hanya bersifat nasional, tetapi juga melibatkan kerja sama internasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran diplomasi kesehatan Indonesia dalam upaya penanggulangan tuberkulosis sebagai penyakit menular global pada periode 2023–2024. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan, melalui analisis data sekunder berupa laporan WHO, dokumen Perserikatan Bangsa-Bangsa, ASEAN, serta publikasi ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diplomasi kesehatan global berperan penting dalam memperkuat komitmen politik, memperoleh dukungan pendanaan dan teknis, serta mendorong inovasi dalam pencegahan dan pengobatan TBC. Partisipasi Indonesia dalam forum global seperti High-Level Meeting PBB, kerja sama dengan WHO, Global Fund, serta keterlibatan aktif di tingkat regional ASEAN mencerminkan upaya strategis dalam mempercepat eliminasi TBC. Selain itu, keterlibatan aktor non-negara turut memperkuat jejaring dan advokasi kebijakan kesehatan. Dengan demikian, diplomasi kesehatan global terbukti menjadi instrumen strategis dalam memperkuat kapasitas nasional dan mempercepat pencapaian target eliminasi TBC pada tahun 2030 sesuai dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs).
Copyrights © 2026