Pendahuluan: Immune thrombocytopenic Purpura (ITP) merupakan suatu kelainan autoimun dengan manifestasi klinis yang bervariasi dari asimtomatik hingga perdarahan berat yang mengancam jiwa. Penanganan kasus ITP di daerah tertinggal dengan sarana dan fasilitas kesehatan yang terbatas menjadi tantangan bagi tenaga kesehatan. Tingginya angka kegagalan terapi dan relaps menjadi salah satu kesulitan dalam pemberian terapi yang optimal. Laporan Kasus: Pasien perempuan, 50 tahun, datang ke rumah sakit dengan keluhan gusi bedarah, buang air kecil bercampur darah, buang air besar disertai darah berwarna merah kehitaman, dan timbul petekie serta purpura di kedua extremitas. Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik tidak ditemukan kecurigaan adanya faktor pencetus ataupun penyakit komorbid. Hasil pemeriksaan darah lengkap awal menunjukkan adanya trombositopenia dengan jumlah trombosit 12.000/µL. Pasien kemudian menjalani rawat inap dan diberikan terapi steroid berupa metilprednisolon intravena selama 8 hari. Keluhan pasien berangsur-angsur membaik dan trombositopenia teratasi. Pasien dipulangkan dengan melanjutkan terapi steroid. Hasil evaluasi darah lengkap satu bulan pasca perawatan menunjukkan hasil yang baik. Pasien diedukasi untuk rutin kontrol ke poli rawat jalan agar tenaga kesehatan dapat memantau terjadinya kegagalan terapi ataupun relaps. Simpulan: Penilaian klinis dengan anamnesis yang cermat serta pemeriksaan fisik yang lengkap sangat penting dalam penegakan diagnosis ITP. Pemeriksaan darah lengkap sering kali menjadi satu-satunya pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan terutama di daerah tertinggal. Pasien harus dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan dan rencana pengobatan harus mempertimbangkan kualitas hidup pasien.
Copyrights © 2025