Latar Belakang: Gerakan repetitif tangan dan pergelangan tangan merupakan salah satu faktor risiko okupasi utama untuk terjadinya Sindrom Terowongan Karpal (Carpal Tunnel Syndrome/CTS). Pekerja pabrik rokok di Indonesia, khususnya pada proses penggulungan (rolling) dan pengemasan (packaging), terpapar secara intensif terhadap gerakan repetitif, postur statis canggung, dan durasi kerja yang panjang, sehingga diduga berisiko tinggi mengalami CTS. Namun, bukti langsung yang menghubungkan paparan spesifik pada pekerja pabrik rokok di Indonesia dengan insidensi CTS masih terbatas. Metode: Tinjauan sistematis ini dilakukan dengan menyaring 37 sumber literatur berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Kriteria penyaringan meliputi populasi pekerja pabrik rokok di Indonesia, pengukuran CTS sebagai outcome, pemeriksaan gerakan repetitif sebagai paparan okupasi, serta desain studi observasional atau tinjauan sistematis dengan data kuantitatif. Ekstraksi data dilakukan terhadap karakteristik populasi, deskripsi aktivitas kerja repetitif, metode asesmen CTS, hubungan statistik antara gerakan repetitif dan CTS, faktor risiko lain, serta kualitas studi. Hasil: Dari 37 sumber, hanya tiga studi yang secara langsung meneliti pekerja pabrik rokok di Indonesia. Bukti tidak langsung dari meta-analisis internasional dan tinjauan literatur menunjukkan hubungan yang kuat dan konsisten antara gerakan repetitif dan peningkatan risiko CTS, dengan Odds Ratio (OR) 2.26 (95% CI: 1.73–2.94) (Barcenilla et al., 2012). Faktor risiko okupasi lain yang signifikan meliputi getaran (OR=5.40), penggunaan kekuatan tangan (OR=4.23), serta kombinasi gerakan repetitif dan stres psikososial (OR=4.94). Pada pekerja pabrik rokok, aktivitas seperti menggulung rokok dengan postur membungkuk hingga 88° dikategorikan berisiko sedang hingga tinggi secara ergonomis. Studi intervensi di industri rokok "X" di Kediri menunjukkan bahwa modifikasi ergonomis tempat kerja dapat menurunkan keluhan muskuloskeletal dan biaya pengobatan hingga 56,97%, serta meningkatkan produktivitas hingga 41,47% (Sajiyo et al., 2009). Program latihan tangan dan peregangan di tempat kerja juga terbukti efektif mengurangi gejala CTS pada populasi pekerja sejenis. Diskusi: Temuan mendukung adanya asosiasi positif antara gerakan repetitif pada pekerja pabrik rokok dan peningkatan risiko CTS. Profil paparan pekerja pabrik rokok yang unik—menggabungkan gerakan repetitif halus, postur canggung statis, dan jam kerja panjang—menciptakan lingkungan berisiko tinggi. Namun, bukti langsung masih sangat terbatas, didominasi oleh desain studi cross-sectional dengan sampel kecil dan variasi metode asesmen CTS yang menghambat komparabilitas. Kekosongan penelitian (research gap) utama adalah kurangnya studi kohort longitudinal dan penelitian intervensi dengan ukuran sampel yang memadai serta diagnosis CTS berbasis konduksi saraf (NCS) pada populasi spesifik ini. Kesimpulan: Gerakan repetitif pada pekerja pabrik rokok di Indonesia berhubungan dengan peningkatan risiko CTS, didukung oleh bukti tidak langsung yang kuat dan bukti langsung yang terbatas namun mengarah pada kesimpulan serupa. Intervensi ergonomis dan program latihan merupakan strategi pencegahan yang menjanjikan dan telah menunjukkan efektivitas dalam konteks Indonesia. Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan desain longitudinal dan metode diagnosis yang lebih ketat untuk memperkuat bukti kausal dan menginformasikan kebijakan kesehatan kerja yang lebih tepat sasaran.
Copyrights © 2026