Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor-faktor difusi inovasi terhadap adopsi layanan perbankan digital melalui mobile banking di Jakarta Barat. Penelitian ini didasarkan pada teori Diffusion of Innovation dengan mengkaji lima konstruk utama, yaitu perceived complexity, relative advantage, perceived compatibility, technology self-efficacy, dan perceived expected benefits. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode survei. Data dikumpulkan dari 400 responden pengguna aktif layanan perbankan digital dan dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) berbasis AMOS untuk menguji hubungan kausal antar variabel laten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa relative advantage berpengaruh positif dan signifikan terhadap perceived compatibility, serta perceived expected benefits berpengaruh positif dan signifikan terhadap perceived complexity. Sementara itu, perceived complexity, perceived compatibility, dan technology self-efficacy tidak menunjukkan pengaruh langsung yang signifikan terhadap adopsi layanan perbankan digital. Temuan ini mengindikasikan bahwa persepsi manfaat dan keunggulan relatif layanan memiliki peran yang lebih dominan dalam mendorong adopsi mobile banking dibandingkan dengan persepsi kompleksitas maupun keyakinan individu terhadap kemampuan teknologi. Penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi perbankan untuk lebih menekankan nilai manfaat, keunggulan layanan, dan penciptaan pengalaman pengguna yang bernilai dalam mempercepat adopsi perbankan digital, khususnya di wilayah perkotaan seperti Jakarta Barat
Copyrights © 2026