Polusi udara di DKI Jakarta merupakan masalah serius dengan tingkat polusi tertinggi di Asia Tenggara. Sumber utama polusi udara berasal dari sektor transportasi, industri, dan pembakaran sampah. Keterbatasan sistem pemantauan konvensional mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan, khususnya algoritma machine learning, untuk meningkatkan akurasi klasifikasi kualitas udara. Penelitian ini membandingkan performa empat algoritma, yaitu Support Vector Machine (SVM), Gradient Boosting, Random Forest, dan Decision Tree, dalam mengklasifikasikan tingkat polusi udara di Jakarta. Dataset yang digunakan terdiri atas 1.675 data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang diperoleh dari Dinas Lingkungan Hidup Jakarta selama periode Januari hingga November 2024. Parameter yang digunakan meliputi PM10, PM2.5, SO₂, CO, O₃, dan NO₂. Proses penelitian mencakup tahapan pembersihan data, normalisasi, reduksi dimensi menggunakan Principal Component Analysis (PCA), pembangunan model melalui pembagian data latih dan data uji dengan rasio 80:20, serta evaluasi performa menggunakan metrik akurasi, presisi, recall, dan F1-score. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa seluruh algoritma menghasilkan tingkat akurasi yang tinggi. Algoritma Random Forest mencapai performa terbaik dengan akurasi sebesar 93,71%, diikuti oleh Decision Tree sebesar 93,41%, Gradient Boosting sebesar 92,81%, dan Support Vector Machine sebesar 92,51%. Temuan ini mendukung penerapan machine learning sebagai solusi yang efektif untuk pemantauan polusi udara di Jakarta.
Copyrights © 2026