Peningkatan jumlah pasien gagal ginjal kronik menyebabkan lonjakan kebutuhan pelayanan dialisis di RSUD X Riau, seiring dengan rencana penambahan kapasitas mesin dialisis hingga 20 unit. Implementasi Rekam Medis Elektronik (RME) melalui SIMRS telah berjalan, namun pengelolaannya di unit dialisis masih dilakukan oleh perawat. Kondisi ini berpotensi menambah beban kerja, menurunkan mutu pelayanan, serta meningkatkan risiko kesalahan dokumentasi klinis dan keterlambatan klaim BPJS. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi RME di unit dialisis serta merumuskan strategi optimalisasi sistem melalui pendekatan analisis SWOT. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan SWOT yang meliputi identifikasi faktor internal (Strengths dan Weaknesses) serta faktor eksternal (Opportunities dan Threats). Selanjutnya dilakukan penyusunan matriks IFAS dan EFAS untuk menentukan posisi organisasi dalam kuadran strategi. Hasil analisis menunjukkan nilai IFAS sebesar -0,3 dan EFAS sebesar 0,2, yang menempatkan RS X Riau pada Kuadran III (WO). Posisi ini mengindikasikan bahwa rumah sakit memiliki peluang eksternal yang besar, namun masih terkendala oleh kelemahan internal yang signifikan. Strategi yang paling tepat adalah strategi WO (Turn Around Strategy), yaitu berfokus pada perbaikan kelemahan internal agar peluang eksternal dapat dimanfaatkan secara optimal. Prioritas strategi meliputi penguatan sumber daya manusia rekam medis, penyusunan SOP pengelolaan RME yang jelas, serta penyediaan sarana pendukung. Implementasi strategi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pelayanan, akurasi data klinis, keselamatan pasien, serta mendukung keberlanjutan klaim BPJS di unit dialisis RS X Riau.
Copyrights © 2026