This research focuses on studying the living Al-Qur'an on the ruqyah scene in the film Qodrat by Charles Gozali, produced by Rapi Films in 2022. The film Qodrat has a ruqyah scene that is unique compared to other films, namely Ustadz Qodrat during his ruqyah, he recites verses from the Koran in a melodious rhythm. Another side, ruqyah reading in the film Qodrat, there are not only Surah Al-Fatihah and Ayat Kursy, but also verses that have not been studied by previous research. The method used is a qualitative method with Ahmad Rafiq's reception approach. The resulting findings are first, An aesthetic reception was seen when Ustadz Qodrat recited the Al-Qur'an verse with the Bayyati rhythm in Surah An-Nur/24: 42 which aims to make the person being ruqyah quickly react to the Satanic interference they feel. Second, The functional reception in the informative aspect contains explanations regarding the power of Allah, the helplessness of jinn and humans and the potential of humans to be able to resist the tricks of the devil. Meanwhile performative aspect, Surah recitation An-Nisa'/4: 76 and Ar-Rahman/55: 33-34 so the devil who possessed Alif Amri's body his movements weakened, even to the point of kneeling, asking for forgiveness and screamed in pain and left the body he possessed. This research shows that There is a synchronization between the ruqyah reading in the Qodrat film and the ruqyah practice in society as wellverses used in the film Qodrat Also in line with the explanations of tafsir scholars. The implication is that society does not experience deviations and fall into error. Penelitian ini memfokuskan kajian living Qur’an pada adegan ruqyah di film Qodrat karya Charles Gozali yang diproduksi oleh Rapi Films pada tahun 2022. Film Qodrat punya adegan ruqyah yang unik dibanding film-film lain, yaitu ustadz Qodrat saat meruqyah, ia melafalkan ayat Al-Qur’an berirama merdu. Di sisi lain, bacaan ruqyah dalam film Qodrat, tidak hanya Surah Al-Fatihah dan Ayat Kursy, melainkan ayat-ayat yang belum dikaji oleh penelitian sebelumnya. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan resepsi Ahmad Rafiq. Temuan yang dihasilkan ialah pertama, resepsi estetis tampak ketika ustadz Qodrat melafalkan ayat Al-Qur'an berirama Bayyati pada Surah An-Nur/24: 42 yang bertujuan agar orang yang diruqyah cepat bereaksi dari gangguan Iblis yang dirasakannya. Kedua, resepsi fungsional pada aspek informatif memuat penjelasan terkait kekuasaan Allah, ketidakberdayaan jin dan manusia serta potensi manusia yang dapat melawan tipu daya iblis. Sementara itu aspek performatifnya, pembacaan Surah An-Nisa’/4: 76 dan Ar-Rahman/55: 33-34 agar iblis yang merasuki tubuh Alif Amri melemah pergerakannya, bahkan sampai berlutut, meminta ampun dan berteriak kesakitan serta keluar dari tubuh yang dirasukinya. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat sinkronisasi antara bacaan ruqyah dalam film Qodrat dengan praktik ruqyah di masyarakat serta ayat-ayat yang digunakan dalam film Qodrat juga sejalan dengan penjelasan para ulama tafsir. Implikasinya agar masyarakat tidak mengalami penyimpangan dan terjerumus ke dalam kesesatan.
Copyrights © 2024