Dalam dunia sinema modern, penyuntingan tetap memegang peran penting untuk mendukung struktur naratif dan menguatkan emosi yang dirasakan oleh penonton. Salah satu cara yang efektif untuk menyampaikan dua kejadian atau lebih yang saling berhubungan ialah parallel editing atau penyuntingan paralel. Strategi penyuntingan ini memungkinkan penyajian dua peristiwa yang berlangsung di tempat berbeda secara bersamaan, sehingga menciptakan kesinambungan emosional dan tematik yang kuat. Manusia bebas adalah film pendek yang mengisahkan tentang konflik keluarga antara anak yang mencintai musik dan ayah yang tidak mendukung pilihannya. Fokus penelitian ini terletak pada klimaks yang menggambarkan adegan penerimaan orang tua (parental acceptance) terhadap keputusan anaknya tetap berkarir di dunia musik. Penyuntingan paralel dimanfaatkan untuk membangun koneksi emosional antara ayah dan anak meski tidak berada dalam ruang yang sama. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus film pendek Manusia Bebas. Prosesnya dimulai dari studi literatur, menyortir footage-footage film dan pengujian langsung melalui praktik penyuntingan paralel pada footage tersebut. Data dikumpulkan melalui kumpulan footage dari hasil produksi film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyuntingan paralel yang dikombinasikan dengan transisi visual mampu membangun hubungan emosional antara dua karakter dari ruang yang berbeda, tanpa harus menggunakan dialog verbal. Temuan ini membuktikan bahwa penyuntingan paralel dapat berfungsi sebagai perangkat naratif, khususnya hubungan keluarga dalam sinema. Proses penyuntingan tidak hanya menghasilkan koneksi visual tetapi memberikan pengalaman emosional yang kompleks pada penonton. Dengan membandingkan film-film dengan penyuntingan parallel, penelitian ini juga mengevaluasi efektivitas visual dalam membangun makna dan ketegangan emosi secara bertahap. Kata Kunci: Film Pendek, Penyuntingan paralel, Parental Acceptance
Copyrights © 2025