Stunting merupakan masalah gizi kronis yang masih tinggi di Indonesia, dengan prevalensi 30,2% menurut World Health Organization (WHO), menempatkan Indonesia pada urutan kedua tertinggi di Asia Tenggara setelah Timor-Leste (48,8%). Stunting dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah berat badan lahir rendah (BBLR), yang meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan dan infeksi pada anak. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara berat badan lahir dengan kejadian stunting pada balita usia 1–4 tahun di Desa Jati Mulia, Kabupaten Batu Bara. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 52 balita dipilih menggunakan teknik simple random sampling dari populasi balita usia 1–4 tahun yang memenuhi kriteria inklusi. Data primer dikumpulkan melalui pengukuran langsung dan wawancara dengan ibu menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan IBM SPSS dengan analisis univariat dan uji chi-square (α=0,05) untuk melihat hubungan antara berat badan lahir dan kejadian stunting. Hasil: Dari 52 responden, 34,6% balita memiliki berat badan lahir rendah dan 32,7% mengalami stunting. Analisis chi-square menunjukkan hubungan yang signifikan antara berat badan lahir dan kejadian stunting (p=0,001), dengan odds ratio (OR) sebesar 0,013. Kesimpulan: Berat badan lahir memiliki hubungan signifikan dengan kejadian stunting pada balita usia 1–4 tahun di Desa Jati Mulia, Kabupaten Batu Bara.Kata kunci: stunting, berat badan lahir, balita
Copyrights © 2026