Krisis ekologis di Kalimantan Tengah ditandai oleh deforestasi, ekspansi perkebunan monokultur, serta penambangan ilegal yang berdampak serius terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat adat Dayak. Situasi ini menuntut respons yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga teologis dan kultural. Artikel ini menawarkan pembacaan baru terhadap Handep Hapakat prinsip hidup komunal masyarakat Dayak sebagai praksis ekologi integral dan model ekopastoral kontekstual dalam terang ajaran Gereja Katolik, khususnya ensiklik Laudato Si’. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan orientasi hermeneutika teologis-kultural melalui studi kepustakaan terhadap literatur budaya Dayak, dokumen Gereja, dan kajian ekoteologi kontemporer. Hasil analisis menunjukkan bahwa Handep Hapakat tidak sekadar merupakan konstruksi sosial, melainkan praksis spiritual-ekologis yang menegaskan relasi harmonis antara manusia, komunitas, alam, dan Sang Pencipta. Nilai kebersamaan, tanggung jawab kolektif, dan musyawarah yang terkandung di dalamnya sejalan dengan visi ekologi integral yang menghubungkan dimensi ekologis, sosial, budaya, dan spiritual secara utuh. Artikel ini menegaskan bahwa integrasi Handep Hapakat dalam karya pastoral Gereja memiliki potensi transformatif dalam membangun kesadaran ekologis, memperkuat inkulturasi iman, serta mendorong keterlibatan komunitas dalam merawat rumah bersama secara berkelanjutan.
Copyrights © 2024