Masalah gizi kurang masih menjadi tantangan serius di Indonesia, khususnya pada balita. Berdasarkan data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, prevalensi balita gizi kurang secara nasional mencapai 12,2% dan stunting sebesar 21,6%. Di Sulawesi Selatan, prevalensi gizi kurang bahkan mencapai lebih dari 15%, sedangkan di Kota Makassar tercatat sebesar 11,2% untuk gizi kurang dan 24,8% untuk stunting. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan protein, beta karoten, dan daya terima pempek ikan lele dengan penambahan wortel sebagai upaya pengembangan pangan lokal bergizi untuk anak usia 6–59 bulan. Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimen dengan pendekatan One Shot Case Study terhadap tiga formulasi: F0 (tanpa wortel), F1 (50 g wortel), dan F2 (25 g wortel). Uji daya terima dilakukan terhadap 30 panelis, dan analisis kandungan protein serta beta karoten dilakukan di laboratorium. Hasil menunjukkan bahwa formula F1 merupakan formulasi terbaik dengan total skor kesukaan tertinggi (384). Hasil uji laboratorium menunjukkan kadar protein sebesar 5,52% dan beta karoten sebesar 392,82 µg/g pada pempek F1. Kandungan ini berkontribusi sebesar 70,8% terhadap Angka Kecukupan Gizi (AKG) protein harian berdasarkan kebutuhan 25 g/hari dan 87,2% terhadap AKG beta karoten harian berdasarkan kebutuhan 450 µg/hari. Pempek ikan lele dengan penambahan wortel terbukti memiliki daya terima yang tinggi, kandungan gizi yang signifikan, serta berpotensi sebagai pangan alternatif untuk intervensi gizi anak usia dini di wilayah dengan prevalensi gizi buruk yang tinggi.
Copyrights © 2026