Pendidikan inklusif merupakan mandat kebijakan nasional dan sejalan dengan nilai-nilai keislaman, namun implementasinya di Madrasah Ibtidaiyah (MI) sering terhambat oleh keterbatasan kompetensi guru dalam melayani Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK). Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru MI di Purwokerto dalam merancang dan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Metode kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif yang terstruktur selama tiga bulan, meliputi: (1) Asesmen kebutuhan awal melalui pre-test dan Focus Group Discussion (FGD); (2) Workshop untuk membangun pemahaman konseptual; (3) Pendampingan implementatif berbasis coaching untuk pengembangan Modul Ajar Berdiferensiasi dan praktik mengajar; serta (4) Evaluasi akhir melalui post-test dan analisis produk. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada kompetensi guru. Secara kuantitatif, skor rata-rata pemahaman konseptual guru meningkat dari 42.5 menjadi 85.2. Secara kualitatif, analisis produk menunjukkan peningkatan kualitas Modul Ajar yang dihasilkan, dan observasi kelas mengkonfirmasi adanya perubahan praktik mengajar dari pendekatan seragam menjadi lebih responsif terhadap keragaman siswa. Diskusi hasil menunjukkan bahwa model pendampingan berkelanjutan (coaching) menjadi faktor kunci keberhasilan dalam mentransformasikan teori menjadi praktik, melampaui efektivitas pelatihan konvensional. Disimpulkan bahwa model pendampingan terintegrasi ini efektif untuk meningkatkan kapasitas guru MI dalam menyelenggarakan pendidikan inklusif. Direkomendasikan adanya replikasi model pendampingan ini di lingkup yang lebih luas oleh Kementerian Agama.
Copyrights © 2025