Premenstrual Syndrome (PMS) is a common condition experienced by women of reproductive age, including university students, characterized by a combination of physical, psychological, and emotional symptoms that occur during the luteal phase of the menstrual cycle. Psychological stress is recognized as one of the factors that may exacerbate PMS symptoms, particularly among students facing academic demands. This study aimed to determine the relationship between stress levels and the incidence of Premenstrual Syndrome among midwifery students at the Faculty of Medicine, Universitas Pendidikan Ganesha. This research employed a correlational analytic design with a cross-sectional approach. The study population consisted of all active midwifery students at the Faculty of Medicine, Universitas Pendidikan Ganesha. A total of 159 respondents were included using a total sampling technique. Data were collected using the Perceived Stress Scale (PSS) to assess stress levels and the Shortened Premenstrual Assessment Form (SPAF) to measure the incidence and severity of PMS. Data analysis included univariate analysis to describe respondent characteristics and bivariate analysis using the Spearman Rank correlation test with SPSS software. The results showed that most respondents experienced moderate stress levels (81.1%), while 13.8% experienced high stress and 5.0% experienced low stress. Regarding PMS, the majority of respondents experienced PMS of moderate severity (36.5%) and severe severity (31.4%), while only a small proportion did not experience PMS (3.1%). Statistical analysis revealed a significant relationship between stress levels and the incidence of Premenstrual Syndrome, with a p-value of 0.001 (p < 0.05). Higher stress levels were associated with increased severity of PMS symptoms. In conclusion, there is a significant relationship between stress levels and the incidence of Premenstrual Syndrome among midwifery students. These findings indicate that psychological stress plays an important role in the occurrence and severity of PMS. Therefore, stress management interventions and reproductive health education are essential to improve the well-being and academic performance of midwifery students. ABSTRAK Premenstrual Syndrome (PMS) adalah gangguan yang sering terjadi pada perempuan dalam usia subur, termasuk mahasiswi, yang ditandai dengan munculnya berbagai keluhan fisik, emosional, dan psikologis pada fase luteal siklus menstruasi. Mahasiswi kebidanan termasuk kelompok yang berisiko mengalami stres akibat tekanan akademik dan praktik klinik yang berkelanjutan. Tingginya prevalensi sindrom pramenstruasi yang berpotensi dapat mengganggu fungsi akademik dan psikososial mahasiswi. Apabila faktor yang berhubungan dengan PMS, khususnya stres psikologis, tidak diidentifikasi, maka penanganan yang diberikan cenderung bersifat simptomatik dan tidak menyentuh faktor predisposisi. Kondisi tersebut dapat menyebabkan perburukan gejala, penurunan kualitas hidup, serta gangguan performa akademik. Oleh karena itu, penelitian ini penting sebagai dasar dalam penyusunan program manajemen stres dan promosi kesehatan reproduksi di lingkungan pendidikan tinggi. Penelitian ini menggunakan rancangan analitik korelasional dengan pendekatan potong lintang (cross sectional). Seluruh mahasiswi program studi D3 dan S1 Kebidanan angkatan 2023–2025 dijadikan populasi, dengan teknik total sampling sehingga diperoleh 159 responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen Perceived Stress Scale (PSS) untuk menilai tingkat stres dan Shortened Premenstrual Assessment Form (SPAF) untuk mengukur kejadian serta tingkat keparahan PMS. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Spearman Rank dengan bantuan SPSS. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas responden mengalami tingkat stres sedang (81,1%), dengan 13,8% mengalami stres tinggi dan 5,0% mengalami stres rendah. Berdasarkan kejadian Premenstrual Syndrome (PMS), sebagian besar responden mengalami PMS dengan derajat sedang (36,5%) dan berat (31,4%), sedangkan 3,1% tidak mengalami PMS. Hasil uji statistik Spearman Rank menunjukkan nilai p sebesar 0,001 (p < 0,05), yang menandakan adanya hubungan signifikan antara tingkat stres dan kejadian PMS. Semakin tinggi tingkat stres, semakin berat derajat PMS yang dialami. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan derajat sindrom pramenstruasi pada mahasiswi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Pendidikan Ganesha. Stres psikologis berperan dalam meningkatkan keparahan gejala PMS, sehingga diperlukan upaya manajemen stres serta edukasi kesehatan reproduksi guna meningkatkan kualitas hidup dan kesiapan akademik mahasiswi.
Copyrights © 2026