Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak sektor pariwisata terhadap pemerataan kesejahteraan masyarakat lokal di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pasca-pandemi, serta menginvestigasi fenomena paradoks pertumbuhan ekonomi di wilayah Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP). Menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan metode komparatif spasial (spatial comparative analysis), studi ini membandingkan tren Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita periode 2018–2023 antara wilayah basis pariwisata (Kabupaten Manggarai Barat) dengan wilayah non-basis pariwisata dan pusat jasa (Kota Kupang). Analisis juga dilengkapi dengan dekomposisi struktur pengeluaran wisatawan nusantara tahun 2023 untuk mendeteksi potensi kebocoran ekonomi (economic leakage). Temuan penelitian mengindikasikan kuatnya fenomena Enclave Tourism (Pariwisata Kantong), di mana lonjakan kunjungan wisatawan tidak diikuti dengan peningkatan signifikan pada kesejahteraan rata-rata penduduk lokal. Kabupaten Manggarai Barat mencatatkan rata-rata PDRB per kapita (Rp 13,74 juta) yang lebih rendah dibandingkan rata-rata kabupaten non-pariwisata (Rp 17,72 juta). Stagnasi ini disebabkan oleh tingginya kebocoran ekonomi, di mana 43,75% pengeluaran wisatawan terserap ke sektor padat modal (akomodasi dan transportasi), sementara sektor ekonomi kerakyatan hanya berkontribusi sebesar 9,33%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pertumbuhan pariwisata di NTT bersifat eksklusif dan belum memberikan efek menetes (trickle-down effect) yang efektif. Kata Kunci: Enclave Tourism; Disparitas Spasial; Kebocoran Ekonomi; PDRB Per Kapita; Nusa Tenggara Timur
Copyrights © 2026