Apendisitis merupakan salah satu kasus akut terbanyak yang membutuhkan tindakan pembedahan, yaitu apendektomi. Pasien pasca apendektomi umumnya mengalami nyeri akut yang dapat memengaruhi pemulihan fisik maupun psikologis. Terapi nonfarmakologis seperti RIMA (Relaxation, Autogenic Movement, and Affirmation) dapat digunakan sebagai alternatif untuk membantu menurunkan intensitas nyeri. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh terapi RIMA terhadap tingkat nyeri pada pasien pasca operasi apendektomi di ruang rawat inap RS Prima Husada Malang. Desain penelitian menggunakan pre-experimental dengan pendekatan one group pre-test post-test. Sampel berjumlah 32 responden yang ditentukan dengan teknik total sampling. Intensitas nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) sebelum dan sesudah diberikan terapi RIMA. Pengumpulan data dilakukan pada 1 Juli–31 Agustus 2025 di ruang rawat inap RS Prima Husada Malang. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata intensitas nyeri sebelum intervensi sebesar 4,125 (kategori nyeri sedang), sedangkan setelah diberikan terapi RIMA menurun menjadi 2,719 (kategori nyeri ringan). Uji Wilcoxon menunjukkan nilai p = 0,001 (p < 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan terapi RIMA terhadap penurunan intensitas nyeri akut pasca apendektomi. Dengan demikian, terapi RIMA terbukti efektif menurunkan nyeri akut dan dapat dijadikan salah satu intervensi nonfarmakologis mandiri oleh perawat dalam manajemen nyeri di rumah sakit. Kendala yang ditemukan adalah beberapa pasien mengalami kesulitan melakukan bagian autogenic movement karena adanya jahitan di area perut yang menyebabkan keterbatasan mobilisasi, khususnya pada gerakan kaki.
Copyrights © 2026