Resiliensi diartikan sebagai kemampuan individu dalam beradaptasi serta merespon trauma dengan cara yang positif. Sedangkan broken home merupakan kondisi keluarga yang sudah tidak utuh disebabkan oleh perceraian, kematian, dan perginya salah satu orang tua karena bekerja. Kemampuan resiliensi yang dimiliki oleh setiap individu berbeda-beda, dan belum bisa dikatakan sempurna. Seperti halnya yang terjadi pada remaja dari keluarga broken home di SMAN 1 Pulung. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan resiliensi remaja putri dari keluarga broken home di SMAN 1 Pulung. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologis. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan dokumentasi, dengan melibatkan tiga responden utama dan satu guru BK sebagai triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga responden mengalami broken home dengan latar belakang yang berbeda diantaranya disebabkan oleh perceraian, kematian, perginya salah satu orang tua karena bekerja. Kemampuan resiliensi yang dimiliki oleh ketiga responden belum dikatakan sempurna, hal tersebut dikarenakan dukungan yang diperoleh dari ketiga responden. Ketiga responden telah melewati empat tahapan resiliensi, meskipun ketiga responden berasal dari keluarga broken home tetapi ketiganya tetap menjadi siswa yang berprestasi.
Copyrights © 2025