Abstrak: Otitis media supuratif kronik (OMSK) merupakan infeksi telinga tengah dengan prevalensi tinggi di indonesia sebesar 3,9%. Salah satu mikroorganisme utama penyebab OMSK adalah Staphylococcus aureus. Di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap resistensi antibiotik, eksplorasi bahan alam menjadi sangat relevan. Bawang putih (Allium sativum) diketahui menyimpan potensi terapeutik lewat senyawa aktif seperti allicin dan flavonoid yang memiliki sifat antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi sejauh mana efektivitas ekstrak bawang putih pada konsentrasi 25% dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus yang diisolasi langsung dari pasien OMSK, serta membandingkannya dengan performa antibiotik standar ciprofloxacin. Metode penelitian ini menggunkan desain analitik observasional berbasis cross-sectional, peneliti menguji sampel sekret telinga penderita OMSK. Pengukuran kemampuan hambat dilakukan melalui metode difusi cakram (Kirby-Bauer) untuk melihat diameter zona bening yang terbentuk di sekitar sampel. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa ekstrak bawang putih 25% memiliki kemampuan hambat yang signifikan dengan rata-rata diameter zona bening sebesar 16,13 mm, yang secara klinis masuk dalam kategori sensitif. Namun, daya hambat tersebut secara statistik tetap berada di bawah performa ciprofloxacin yang mencatatkan rata-rata diameter sebesar 28,12 mm (p = 0,016). Melalui temuan ini, dapat disimpulkan bahwa meskipun ekstrak bawang putih 25% efektif dalam menekan pertumbuhan kuman penyebab OMSK, kekuatannya belum mampu menyamai ciprofloxacin pada konsentrasi yang diuji. Diperlukan penelitian lanjutan dengan variasi konsentrasi yang lebih tinggi untuk menemukan potensi optimal bawang putih sebagai agen antibakteri pendukung.
Copyrights © 2026