Metode konvensional perhitungan Levelized Cost of Hydrogen (LCOH) menggunakan tingkat diskonto tunggal (single discount rate) mengabaikan asimetri risiko antara arus kas keluar (biaya modal dan operasional) dan arus kas masuk (produksi hidrogen), sehingga berpotensi menghasilkan estimasi biaya yang bias, terutama pada proyek capital-intensive seperti Power-to-Gas (P2G). Penelitian ini mengadopsi metode diskonto biner (binary discounting method) yang memisahkan tingkat diskonto untuk biaya (rc) dan produksi (rs), yang diterapkan pada studi kasus Hydrogen Hub PLN Puslitbang dengan kapasitas produksi 441,65 kg H₂/tahun. Hasil menunjukkan bahwa metode diskonto biner menghasilkan rentang LCOH $4,60–4,71/kg H₂, lebih rendah 0,6–3,0% dibandingkan dengan metode konvensional ($4,74/kg H₂). Analisis sensitivitas mengidentifikasi harga listrik sebagai faktor dominan (kontribusi 60–70% terhadap LCOH), diikuti oleh efisiensi sistem elektroliser dan faktor kapasitas. Perbedaan 3% pada skala komersial (>10.000 ton/tahun) setara dengan penghematan $1,4 juta/tahun. Rekomendasi kebijakan meliputi penerapan skema Net Metering with Compensation for Surplus Generation (NM-CSG) untuk meningkatkan faktor kapasitas elektroliser hingga >95%, tarif listrik khusus berbasis time-of-use (<$0,04/kWh pada siang hari), serta transisi bertahap dari subsidi langsung ke mekanisme berbasis harga karbon. Studi ini membuktikan bahwa optimasi metodologis, bukan hanya penurunan biaya teknologi dapat membuka ruang ekonomi signifikan bagi pengembangan hidrogen hijau di Indonesia.
Copyrights © 2026