Penelitian ini menganalisis representasi identitas budaya Palembang dalam tiga lagu daerah Pempek Lenjer, Ya Saman, dan Cuk Mak Ilang sebagai bentuk sastra kota yang merekam cara masyarakat Palembang memaknai ruang hidup, tradisi, dan simbol budayanya. Ketiga lagu tersebut dipandang sebagai teks budaya yang menampilkan simbol-simbol khas Palembang seperti pempek lenjer, Sungai Musi, Batanghari Sembilan, Pulau Kemaro, serta penggunaan bahasa Palembang dan pola pantun tradisional. Penelitian ini menggunakan Analisis Wacana Kritis Teun A. van Dijk yang mencakup struktur teks, kognisi sosial, dan konteks sosial untuk menelusuri bagaimana lirik-lirik tersebut membentuk wacana identitas budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pempek Lenjer merepresentasikan kebanggaan masyarakat terhadap kuliner lokal sebagai simbol kedekatan sosial dan identitas kota. Ya Saman menampilkan perpaduan ekspresi cinta, ruang geografis, dan budaya tepian Sungai Musi, yang merefleksikan cara masyarakat Palembang memaknai hubungan antara perasaan, ruang, dan identitas. Sementara itu, Cuk Mak Ilang menghadirkan nilai-nilai kolektif masyarakat melalui pantun jenaka yang mencerminkan pergaulan, etika, serta karakter sosial orang Palembang. Ketiga lirik lagu memperlihatkan bahwa karya lisan masyarakat dapat berfungsi sebagai medium sastra kota, yaitu sarana yang mendokumentasikan pengalaman budaya, memperkenalkan citra Palembang, dan memperkuat identitas lokal melalui bentuk-bentuk ekspresi yang hidup di tengah masyarakat.
Copyrights © 2026