Penulisan artikel bertujuan untuk mendeskripsikan hakikat manusia sebagai animal educandum ditinjau dari perspektif pedagogik pada fase perkembangan anak usia pendidikan dasar dan implikaisnya. Metode penulisan artikel ini dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui kajian pustaka, telaah dokumentasi terkait, dan diskusi keilmuan pedagogik dengan mahasiswa S2 Prodi Administrasi Pendidikan Pascasarjana Unigal. Temuan dari kajian ini, secara fisik dan struktur tubuh, manusia memiliki beberapa persamaan dengan hewan lainnya terutama yang tergolong dalam kelas mamalia atau primata . Perbedaan mencolok antara manusia dengan hewan adalah pada otak. Dengan struktur, bagian, dan fungsi otak yang dikembangkan dengan sempurna, maka potensi manusia akan maksimal untuk mencapai posisi tertinggi sesuai dengan fitrahnya. Berdasarkan teori multiple intelegences, manusia memiliki delapan kecerdasan yang dapat dikembangkan. Kedelapan jenis kecerdasan tersebut adalah kecerdasan: linguistic-verbal, matematis-logis, visual-spasial, musical, intrapersonal. interpersonal, kinestetis, dan naturalis. Untuk dapat mencapai potensi terbaiknya, maka manusia harus dididik dengan berbagai cabang keilmuan dan keterampilan menggunakan alat. Berangkat dari potensi dan kebutuhan belajar manusia, maka lahirlah aliran-aliran pendidikan seperti nativisme, empirisme dan konvergensi. Manusia sebagai 'animal educandum' yang mengandung makna bahwa manusia merupakan mahkluk yang perlu atau harus dididik, karena saat dilahirkan kondisinya sangat tidak berdaya sama sekali, padahal memilki berbagai potensi yang apabila dibantu dengan pendidikan akan menjadi manusia yang paripurna yang akan sangat berbeda dengan hewan Bertolak dari pandangan tersebut, secara implisit terlihat pula bahwa tidak mungkin manusia dipandang sebagai mahkluk yang harus di didik, apabila manusia bukan mahkluk yang dapat di didik.
Copyrights © 2026