Hiperpigmentasi kulit,yang dipicu oleh peningkatan produksi melanin akibat paparan faktor risiko seperti radikal bebas, menjadi isu dermatologis yang dapat berdampak negatif pada kepercayaan diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan indeks melanin dalam penggunaan serum wajah yang diformulasikan dari propolis dan madu kelulut lebah tanpa sengat asal Kalimantan Timur, yang diyakini memiliki potensi anti-hiperpigmentasi berkat kandungan tinggi senyawa fenolik, flavonoid, dan antioksidan alaminya. Metode penelitian yang digunakan adalah pra-eksperimental dengan desain one-group pre test-post test, melibatkan 20 orang relawan mahasiswa laki-laki Universitas Mulawarman dengan masa intervensi dan observasi selama empat belas hari. Pengukuran indeks melanin dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan mexameter® MX-18. Hasil analisis statistik menunjukkan rata-rata kadar melanin subjek meningkat dari 307,07 sebelum pemakaian menjadi 312,34 sesudah pemakaian serum. Meskipun terjadi peningkatan secara deskriptif, uji Paired Sample t-Test menyimpulkan bahwa perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik (p = 0,273). Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan serum wajah berbasis propolis dan madu kelulut lebah tanpa sengat selama empat belas hari tidak menghasilkan perbedaan indeks melanin yang bermakna secara statistik.
Copyrights © 2026