Mahasiswa perantau kerap dihadapkan pada perbedaan budaya, bahasa, dan pola interaksi sosial yang berpotensi menimbulkan Culture shock. Secara empiris, fenomena ini masih banyak ditemukan pada mahasiswa perantau, khususnya angkatan 2021 yang mengalami transisi dari pembelajaran daring ke tatap muka. Secara ideal, mahasiswa diharapkan mampu menyesuaikan diri secara optimal agar dapat berfungsi secara akademik dan sosial. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Culture shock dan penyesuaian diri pada mahasiswa perantau angkatan 2021 di Universitas Bina Darma. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan penelitian berjumlah 167 mahasiswa perantau angkatan 2021 yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui skala penyesuaian diri dan skala Culture shock yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan menggunakan korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara penyesuaian diri dan Culture shock (r = -0,613; p = 0,000), yang berarti semakin rendah tingkat penyesuaian diri, maka semakin tinggi Culture shock yang dialami mahasiswa. Temuan ini mengindikasikan pentingnya penguatan kemampuan penyesuaian diri dalam menekan dampak Culture shock. Penelitian ini berimplikasi pada perlunya program pendampingan, orientasi, dan layanan konseling bagi mahasiswa perantau guna mendukung proses adaptasi akademik dan sosial di lingkungan perguruan tinggi.
Copyrights © 2026