Perubahan kebijakan kurikulum dari Kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka dilatarbelakangi oleh berbagai permasalahan mendasar, antara lain kompetensi yang terlalu luas, struktur kurikulum yang kaku, beban belajar peserta didik yang tinggi, keterbatasan ruang inovasi guru, serta rendahnya capaian hasil belajar nasional sebagaimana tercermin dalam hasil PISA. Kondisi tersebut diperparah oleh krisis pembelajaran akibat pandemi COVID-19, sehingga diperlukan upaya strategis untuk meningkatkan kompetensi guru dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, khususnya melalui pembelajaran berdiferensiasi dan asesmen yang berpusat pada peserta didik. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mendampingi guru SMA Negeri 1 Pineleng dalam menyusun modul ajar Kurikulum Merdeka yang berorientasi pada pembelajaran berdiferensiasi dan asesmen diagnostik. Metode yang digunakan adalah pendampingan berbasis workshop, yang diawali dengan sosialisasi konsep pembelajaran berdiferensiasi dan asesmen, kemudian dilanjutkan dengan praktik penyusunan modul ajar selama empat bulan, baik secara luring maupun daring. Peserta kegiatan berjumlah 25 guru dari berbagai mata pelajaran. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa guru mengalami peningkatan pemahaman dan keterampilan dalam menyusun modul ajar yang sesuai dengan capaian pembelajaran, karakteristik peserta didik, serta prinsip Kurikulum Merdeka. Guru juga menjadi lebih percaya diri dalam merancang pembelajaran yang fleksibel, kontekstual, dan berpusat pada siswa. Dengan demikian, kegiatan pengabdian ini memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan profesionalisme guru serta mendukung implementasi Kurikulum Merdeka secara lebih efektif dan berkelanjutan di satuan pendidikan..
Copyrights © 2026