Penelitian ini bertujuan menganalisis dialektika estetika dan ideologi dalam resepsi gaya bahasa Al-Quran pada sastra Arab klasik melalui model "Interkoneksi Tiga Lapis" (Pengaruh Quran → [Mediasi Ideologis] ← Tradisi Lokal). Dengan pendekatan kualitatif-interpretatif dan studi kasus multipel, metode penelitian mengombinasikan analisis filologis naskah (MS A17 Al-Qarawiyyin, Diwan Al-Himyari), eksaminasi material (sakralisasi tinta emas Sufi vs. desakralisasi naskah Mu'tazilah), serta komparasi kuantitatif adaptasi Quranik (Al-Aghani: 124 referensi vs Diwan Ibn al-Rumi: 17 referensi). Analisis mengintegrasikan hermeneutika dialektis (Abu Zayd), teori medan kultural (Bourdieu), dan resepsi stilistika (Al-Jurjani) untuk mengungkap: (1) politik kanonisasi Abbasiyah melalui cultural appropriation estetika Quranik, (2) polarisasi ideologis kalangan Sufi (transendensi tasybih) vs Mu'tazilah (reduksi retoris), serta (3) strategi metaformosis (pemisahan lafẓ-ma‘nā oleh Al-Ma’arri) dan counter-appropriation sastra marginal. Temuan kunci menunjukkan hegemoni negara dalam distorsi kanon sastra, dialektika adaptasi-resistensi terhadap otoritas linguistik Quran, serta validitas model tiga lapis yang terbukti menjelaskan hibridisasi estetika dalam Maqamat Al-Hariri dan kelangsungan tradisi bawah tanah puisi Syiah
Copyrights © 2025