Penelitian ini menganalisis bagaimana grup WhatsApp “Petani Sayur” berfungsi sebagai ekosistem pembelajaran sosial digital yang mendukung difusi inovasi dan peningkatan kapasitas petani sayur. Transformasi komunikasi digital telah menggeser pola penyuluhan dari model satu arah menuju pembelajaran kolaboratif berbasis komunitas. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif netnografi dengan menganalisis percakapan digital selama tiga bulan (Juli–September 2025) menggunakan perangkat lunak NVivo 14. Kerangka teori yang digunakan meliputi Social Learning Theory, Community of Practice, dan Diffusion of Innovation, dengan dukungan konsep literasi digital dan modal sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa WhatsApp berfungsi sebagai ruang ko-kreasi pengetahuan di mana proses observasi, eksperimen, dan validasi sejawat terjadi secara horizontal. Struktur jejaring komunikasi memperlihatkan adanya distributed leadership dengan peran penyuluh sebagai fasilitator dan validator pengetahuan. Analisis sentimen menunjukkan dominasi interaksi positif yang memperkuat kepercayaan dan kohesi sosial. Literasi digital meningkatkan kemampuan petani dalam mengevaluasi dan mengadaptasi informasi, sementara modal sosial memperkuat kolaborasi komunitas. Sinergi keduanya melahirkan inovasi sosial yang meningkatkan kapasitas teknis, kognitif, dan kolektif petani. Secara teoretis, penelitian ini memperluas penerapan teori pembelajaran sosial dan difusi inovasi dalam konteks komunikasi digital pertanian. Secara praktis, hasilnya merekomendasikan integrasi WhatsApp sebagai bagian dari sistem penyuluhan digital berbasis komunitas.
Copyrights © 2026