Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena quiet quitting di kalangan pendidik madrasah melalui lensa krisis motivasi dan manajemen kesejahteraan mental. Menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) berdasarkan pedoman PRISMA, studi ini mensintesis 10 literatur teratas dari pangkalan data Google Scholar yang diterbitkan antara tahun 2019 hingga 2026. Hasil analisis tematik menunjukkan bahwa quiet quitting, yakni bekerja sebatas kewajiban minimum formal, bukanlah cerminan kemalasan, melainkan mekanisme pertahanan psikologis yang rasional dari para guru terhadap beban kerja administratif yang eksesif dan kompensasi finansial yang jauh dari kata layak. Dalam konteks madrasah, krisis ini diperparah oleh adanya "eksploitasi simbolik", di mana etos spiritual "ikhlas beramal" kerap digunakan oleh institusi untuk menormalisasi ketidakadilan kesejahteraan. Kegagalan menyeimbangkan ekspektasi spiritual dan hak material ini memicu burnout yang berujung pada penarikan diri guru, sehingga secara langsung mengancam kualitas pembelajaran. Penelitian ini menyimpulkan adanya urgensi pergeseran paradigma Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) pendidikan ke arah tata kelola yang berpusat pada kesejahteraan (well-being), yang mencakup rasionalisasi beban administratif dan pemenuhan kompensasi yang berkeadilan.
Copyrights © 2026