Indonesia tengah menghadapi krisis senyap yang berdampak jangka panjang terhadap ketahanan keluarga dan kualitas generasi penerus, yakni meningkatnya fenomena fatherless epidemic atau ketidakhadiran figur ayah dalam kehidupan anak, baik secara fisik maupun psikologis. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memitigasi dampak sosial dan psikologis dari fatherless epidemic melalui pendekatan berbasis partisipasi aktif masyarakat. Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR), yang melibatkan 30 orang tua dan tokoh masyarakat Desa Gading, Kabupaten Probolinggo, dalam empat siklus kegiatan selama tiga bulan yang mencakup identifikasi masalah, perencanaan aksi, pelaksanaan, dan evaluasi bersama. Data dianalisis secara kualitatif melalui observasi, wawancara mendalam, serta tiga sesi diskusi kelompok terfokus (FGD) untuk menggali persepsi dan praktik masyarakat terkait peran ayah. Peningkatan kesadaran dan keterlibatan ayah diukur melalui perbandingan hasil pre–post kuesioner sederhana, lembar refleksi partisipan, serta indikator kehadiran ayah dalam kegiatan keluarga dan forum desa. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kesadaran kolektif mengenai pentingnya kehadiran ayah, lahirnya forum diskusi keluarga, serta terbentuknya jejaring komunitas peduli ayah dan anak. Program ini merekomendasikan integrasi isu fatherless dalam kebijakan pembangunan keluarga di tingkat desa serta perlunya dukungan lintas sektor dalam menciptakan ekosistem pengasuhan yang inklusif dan berkeadilan gender. Kata kunci: fatherless epidemic; family resilience; participatory action research (PAR)
Copyrights © 2026