Pemahaman belajar di kalangan mahasiswa masih sering direduksi sebagai aktivitas mekanis seperti menghafal, mencatat, dan mengulang materi, sehingga memunculkan pertanyaan berulang mengenai “cara belajar yang baik”. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara praktik belajar mahasiswa dan hakikat belajar sebagaimana dipahami dalam teori kognitif dan pendidikan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis hakikat belajar sebagai aktivitas berpikir, memetakan tahapan proses kognitif yang terlibat dalam aktivitas belajar mahasiswa, serta menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan kompleksitas proses berpikir tersebut sering tidak disadari dalam praktik pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan terhadap sumber-sumber utama dalam bidang psikologi kognitif, teori belajar, dan pendidikan tinggi. Hasil kajian menunjukkan bahwa belajar merupakan proses kognitif yang utuh dan bertingkat, melibatkan persepsi, pemahaman, penalaran, refleksi, berpikir kritis, hingga metakognisi. Namun, praktik pembelajaran di perguruan tinggi masih cenderung menekankan hasil akhir pembelajaran dibandingkan kualitas proses berpikir mahasiswa, sehingga mengaburkan kesadaran mahasiswa terhadap tahapan berpikir yang mereka alami saat belajar. Artikel ini menegaskan bahwa belajar tidak dapat direduksi sebagai aktivitas mekanis, melainkan merupakan proses berpikir yang kompleks dan terintegrasi. Implikasi kajian ini menuntut pergeseran paradigma pembelajaran di perguruan tinggi menuju pembelajaran yang menempatkan proses berpikir sebagai fokus yang menandai keberhasilan belajar.
Copyrights © 2025