A bridge is a structure that spans a gap, connecting two areas separated by natural obstacles, such as rivers or lakes. The existence of bridges plays a vital role in supporting community mobility and regional economic growth. However, at the Dawuhan Bridge, a settlement (subsidence) problem has been observed at the bridge approach embankment. This settlement can reduce driving comfort and compromise road serviceability. The issues occurring at the Dawuhan Bridge in Kademangan District motivated this study to analyze the causes of the settlement and to identify appropriate technical solutions. This research was conducted through several stages, including field problem identification, soil data collection based on Standard Penetration Test (SPT) results, analysis using the Rankine and Meyerhof methods, and numerical modeling using PLAXIS 2D. The Rankine method was applied to determine the magnitude of active and passive earth pressures, while the Meyerhof method was used to evaluate soil bearing capacity. PLAXIS 2D was employed to provide a visual representation of soil deformation and settlement behavior. The results of the Rankine analysis indicate that the active earth pressure increases significantly at every two-meter interval, suggesting a high tendency for soil movement or deformation under applied loads. Furthermore, the Meyerhof method shows that the bearing capacity beneath the approach embankment varies with depth and soil type, with the soft soil layers exhibiting much lower bearing capacity compared to the underlying hard layers. Numerical simulation using PLAXIS 2D illustrates the pattern of soil deformation, indicating that the most critical deformation occurs within the embankment located above the soft soil layer. The maximum settlement obtained from the simulation is 0.56 m (56 cm). ABSTRAK Jembatan merupakan suatu penyebrangan yang menghubungkan dua wilayah terpisaholeh hambatan alami seperti sungai atau danau. Keberadaan jembatan penting dalam mendukung mobilitas masyarakat dan pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Namun pada jembatan Dawuhan dijumpai permasalahan penururnan (amblas) pada oprit jembatan. Penurunan pada oprit tersebut dapat mengganggu kenyamanan pengguna jalan. Dari permasalahan yang terjadi pada jembatan Dawuhan Kecamatan Kademangan, melatarbelakangi untuk menganalisis penyebab terjadinya penurunan dan mencari solusi teknis yang dapat dilakukan. Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan diantaranya identifikasi masalah dilapangan, pengumpulan data tanah berdasarkan uji SPT, di analisis menggunakan Rankine dan Mayerhof, serta pembuatan pemodelan menggunakan PLAXIS 2D. Rankine digunakan untuk melihat besarnya tekanan aktif dan pasif pada tanah. Mayerhof digunakan untuk melihat daya dukung tanah. Lalu menggunakan software PLAXIS 2D untuk memberikan gambaran visual penurunan tanah. Hasil analisis menggunakan perhitungan Rankine menunjukkan bahwa tekanan aktif setiap per dua meter mengalami lonjakan yang besar, yang menandakan kecenderungan tanah mengalami pergeseran atau deformasi akibat beban diatasnya. Selain itu, metode mayerhof menunjukkan bahwa daya dukung tanah di bawah oprit sangat bervariasi tergantung pada kedalaman dan jenis tanahnya, namun pada lapisan tanah lunak jauh lebih rendah dibandingkan lapisan keras di bawahnya. Disimulasikan menggunakan software PLAXIS 2D memberikan gambaran visual deformasi tanah. Hasilnya menunjukkan area paling aktif mengalami deformasi adalah pada bagian timbunan oprit jembatan yang berada diatas tanah lunak. Deformasi yang terjadi sebesar 0,56 meter atau 56 cm.
Copyrights © 2026