Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Vol 3, No 2 (2025): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology

Ritus Tombor Maghi Sebagai Teks Lokal: Politik Keseharian Pluralisme di Fakfak, Papua Barat

Ngabalin, Marthinus (Unknown)



Article Info

Publish Date
27 Feb 2026

Abstract

Studies on ritual have been extensively conducted by scholars in anthropology, notably Victor Turner (1920–1983) and Max Gluckman (1911–1975), who examined the complexity and dynamics of ritual in relation to customs, social conflict, and individual and collective integration among African societies. Within sociology, Emile Durkheim (1858–1917) and Jeffrey C. Alexander (1947) explored the correlation between rites, religious beliefs, and social performance. However, research on ritual specifically addressing interreligious relations through the lens of cultural sociology remains limited. This study examines the Tombor Maghi ritual practiced by the Fakfak community in West Papua as a means of strengthening interfaith relations between Islam and Christianity. Originally performed within the context of marriage, the ritual has undergone a significant expansion of meaning, now encompassing the construction of a mosque (Wewowo Maesjid Maghi), a church (Wewowo Gereja Maghi), an educational institution (Wewowo STT Maghi), and a customary community organization (Wewowo Lembaga Masyarakat Adat Maghi) in Fakfak Regency. This study addresses the ontological question of how the Fakfak community understands the Tombor Maghi ritual in fostering Islamic-Christian relations. A qualitative method employing a realist ethnographic approach was adopted, with data collected through interviews and field observations conducted in Fakfak Regency. The study concludes that the Tombor Maghi ritual continues to serve as a medium of dialogue and a lived text for weaving interfaith relations, particularly within the domain of marriage. Furthermore, the ritual has undergone cultural reproduction, whereby communities of differing religious, ethnic, cultural, and educational backgrounds collaborate in the construction and inauguration of religious and educational facilities. The preservation of this ritual within the fabric of everyday life reflects a politics of pluralism in the Fakfak community, functioning as a collective strategy for cultivating sustainable interreligious harmony.AbstrakStudi tentang ritual banyak dilakukan oleh ahli yang berfokus pada bidang antropologi [Victor Turner [1920-1983]; Max Gluckman [1911-1975] yang mendiskusikan kompleksitas dan dinamika ritual kaitannya dengan adat-istiadat serta konflik dan integrasi sosial dan individual di kalangan masyarakat Afrika. Bidang sosiologi [Emile Durkheim [1858-1917], Jeffrey C Alexander [1947] mendiskusikan korelasi ritus dan keyakinan agama serta pertunjukkan sosial. Namun penelitian mengenai ritual yang berfokus pada studi antaragama jarang dilakukan melalui lensa sosiologi budaya. Maka penelitian ini berfokus pada masyarakat Fakfak di Papua Barat memiliki ritus Tombor Maghi yang dilakukan sebagai bentuk mempererat relasi lintas agama, yaitu Islam dan Kristen. Pelaksanaan ritus ini dilakukan awalnya dilakukan dalam bidang pernikahan, namun mengalami perkembangan makna, sehingga ritus Tombor Maghi dilakukan dalam rangka membangun Mesjid “Wewowo Maesjid Maghi”, Gereja “Wewowo Gereja Maghi”, menopang pendidikan  “Wewowo STT Maghi” dan pembangunan “Wewowo Lembaga Masyarakat Adat Maghi” di Kabupaten Fakfak. Oleh sebab itu, tulisan ini hendak menjawab pertanyaan ontologis tentang apa pemahaman masyarakat Fakfak tentang ritus Tombor Maghi dalam mempererat relasi Islam dan Kristen. Untuk menjawab pertanyaan ini, penelitian dilakukan dengan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi realis. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi yang dilaksanakan di Kabupaten Fakfak. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ritus Tombor Maghi tetap dilakukan sebagai bagian dari sarana dialog dan teks kehidupan dalam merajut relasi lintas agama, khususnya dalam bidang pernikahan. Selain itu, Tombor Maghi memiliki perkembangan makna atau reproduksi budaya di mana melalui proses pembangunan dan peresmian maesjid, gedung gereja dan lembaga pendidikan, masyarakat yang berbeda agama, budaya, suku, latar belakang pendidikan bekerjasama untuk saling membantu, menolong di mana ritual itu dilestarikan dalam ruang keseharian masyarakat, sehingga hal ini dapat dilihat sebagai  bagian dari politik pluralisme dalam kehidupan keseharian orang Fakfak untuk menciptakan relasi antaragama.

Copyrights © 2025






Journal Info

Abbrev

senafil

Publisher

Subject

Religion Humanities Education Social Sciences Other

Description

Proceedings of the National Conference on Indonesian Philosophy and Theology is an academic journal organized and operated by Faculty of Theology, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Indonesia. The Theological Faculty has been acknowledged as the Pontifical Faculty of Theology “Wedhabakti” by ...