Artikel ini membahas perbandingan sistem pendidikan inklusif di Jepang dan Indonesia, dengan fokus pada pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Kedua negara memiliki komitmen untuk memberikan pendidikan yang setara bagi semua anak, namun menghadapi tantangan serupa, seperti keterbatasan pelatihan guru spesialis dan ketidaksesuaian kurikulum dengan kebutuhan individual siswa. Di Jepang, meskipun sudah ada kebijakan Special Needs Education (SNE), pelatihan guru belum memadai dan kurikulum yang ada cenderung kaku, sehingga sulit disesuaikan dengan kebutuhan setiap siswa. Di Indonesia, kebijakan "Merdeka Belajar" menawarkan fleksibilitas dalam pembelajaran, tetapi implementasinya masih terbatas oleh kurangnya guru terlatih dan kurikulum yang kurang adaptif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi perbandingan, melalui analisis dokumen dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jepang dan Indonesia perlu meningkatkan pelatihan bagi guru, mengembangkan kurikulum yang lebih responsif, serta menyediakan fasilitas dan sumber daya yang memadai untuk mendukung pendidikan inklusif. Rekomendasi juga meliputi perlunya kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, sekolah, dan keluarga untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif. Hasil studi ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi negara lain yang tengah mengembangkan sistem pendidikan inklusif yang komprehensif dan efektif.
Copyrights © 2025