Tantangan modernitas berupa krisis eksistensial, kemiskinan, dan penindasan menuntut reorientasi teologi dari pola teosentris yang abstrak menuju antroposentris yang emansipatoris. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep Khudi (Diri) Muhammad Iqbal dan Tajribah Wujudiyah (Pengalaman Eksistensial) Hasan Hanafi sebagai fondasi teologi pembebasan dalam Islam. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Analisis data dilakukan melalui teknik analisis isi untuk membandingkan dan menyintesis pemikiran kedua tokoh tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep Khudi Iqbal berperan sebagai fondasi ontologis yang membentuk manusia aktif, kreatif, dan anti-fatalisme. Sementara itu, Tajribah Wujudiyah Hanafi memberikan kerangka praksis yang menggeser fokus ilmu kalam dari Tuhan ke manusia, menjadikan akidah sebagai kesadaran pembebasan sosial-politik. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa sintesis pemikiran keduanya menawarkan paradigma teologi yang lebih humanis dan progresif; di mana Khudi menyediakan landasan spiritual pembentukan subjek yang kuat, sedangkan Tajribah Wujudiyah menyediakan arah gerakan untuk mewujudkan keadilan sosial dalam realitas sejarah.
Copyrights © 2025