Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran guru dalam penerapan equal being melalui interaksi sosial antara siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus di lingkungan pendidikan inklusif SMAN 3 Padang Panjang. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kasus. Subjek penelitian di pilih menggunakan teknik purposive meliputi guru, siswa reguler, siswa berkebutuhan khusus, dan kepala sekolah. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumen, dianalisis menggunakan teknik analisis dari Miles dan Huberman dengan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menggunakan teknik pengabsahan data yaitu Triangulasi Metode. Penelitian ini menarik untuk dilakukan karena meningkatnya kebutuhan terhadap pendidikan inklusif yang tidak hanya menempatkan siswa berkebutuhan khusus di sekolah reguler. Selain itu, konsep equal being masih terbilang baru dan jarang dikaji dalam konteks pendidikan inklusif di Indonesia, sehingga penelitian ini penting secara teoritis untuk memperkaya kajian kesetaraan dan integrasi sosial melalui perspektif teori Fungsionalisme Struktural Talcott Parsons. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki peran penting sebagai fasilitator, motivator, mediator, dan role model dalam membangun interaksi sosial inklusif. Namun, terdapat kendala seperti keterbatasan pelatihan guru, hambatan komunikasi, serta kurikulum yang belum fleksibel. , sehingga masih terjadi disfungsi berupa diskriminasi dan kurangnya internalisasi nilai kesetaraan. Penelitian ini memberikan implikasi teoritis bahwa penerapan equal being dapat memperkuat fungsi integrasi dalam sistem pendidikan inklusif. Secara praktis, penelitian ini merekomendasikan perlunya pelatihan guru yang berkelanjutan, seperti kurangnya pelatihan, keterbatasan pemahaman siswa reguler terhadap perbedaan, dan hambatan komunikasi.
Copyrights © 2026