Masyarakat sedulur sikep merupakan masyarakat yang muncul atas gerakan penolakan terhadap pemerintah Belanda. Salah satu bentuk penolakan terhadap penjajahan Belanda adalah penolakan terhadap pendidikan formal. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis dinamika dan resiliensi masyarakat sikep Kudus dalam menerima pendidikan formal. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi tentang isu yang diteliti selama proses penelitian. Pemilihan informan dilakukan berdasarkan kriteria varian lintas generasi dan orientasi pendidikan, diantaranya 3 keluarga besar masyarakat sikep yang menerima pendidikan formal. Analisis data dilakukan dengan tahap reduksi, kondensasi, display, dan simpulan data yang mengacu pada Miles Huberman. Keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber data. Studi ini menemukan bahwa terdapat 3 tahapan dalam penerimaan pendidikan formal yaitu tahap menolak, proses menerima dengan kendala, hingga akomodasi. Tahap penolakan (coping capacity) sebagai fase masyarakat sikep dalam menjaga nilai dan ajaran. Tahap penerimaan dengan kendala (adaptive capacity) terwujud dalam proses negosiasi dan adaptasi terhadap pendidikan formal. Disamping itu, tahap akomodasi (transformative capacity) sebagai puncak keterbukaan dan konsistensi masyarakat sikep dalam menerima pendidikan formal. Resiliensi terwujud dalam dua dimensi yaitu keluarga dalam bentuk dukungan sosial dan pewarisan nilai ajaran, serta sekolah melalui solidaritas sosial dan iklim sekolah. Tiga model kapasitas resiliensi menjadi dasar strategi masyarakat sikep dalam konsistensi menerima pendidikan formal. Dengan demikian, tiga model kapasitas resiliensi tersebut membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah.
Copyrights © 2026