Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dinamika Resiliensi Pendidikan Lokal Sedulur Sikep Kudus vis-à-vis Pendidikan Formal Candra Prawira Utama; Nurul Fatimah
Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 15 No. 1 Februari (2026): Didaktika Jurnal Kependidikan
Publisher : South Sulawesi Education Development (SSED)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/27454312.3669

Abstract

Masyarakat sedulur sikep merupakan masyarakat yang muncul atas gerakan penolakan terhadap pemerintah Belanda. Salah satu bentuk penolakan terhadap penjajahan Belanda adalah penolakan terhadap pendidikan formal. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis dinamika dan resiliensi masyarakat sikep Kudus dalam menerima pendidikan formal. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi tentang isu yang diteliti selama proses penelitian. Pemilihan informan dilakukan berdasarkan kriteria varian lintas generasi dan orientasi pendidikan, diantaranya 3 keluarga besar masyarakat sikep yang menerima pendidikan formal. Analisis data dilakukan dengan tahap reduksi, kondensasi, display, dan simpulan data yang mengacu pada Miles Huberman. Keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber data. Studi ini menemukan bahwa terdapat 3 tahapan dalam penerimaan pendidikan formal yaitu tahap menolak, proses menerima dengan kendala, hingga akomodasi. Tahap penolakan (coping capacity) sebagai fase masyarakat sikep dalam menjaga nilai dan ajaran. Tahap penerimaan dengan kendala (adaptive capacity) terwujud dalam proses negosiasi dan adaptasi terhadap pendidikan formal. Disamping itu, tahap akomodasi (transformative capacity) sebagai puncak keterbukaan dan konsistensi masyarakat sikep dalam menerima pendidikan formal. Resiliensi terwujud dalam dua dimensi yaitu keluarga dalam bentuk dukungan sosial dan pewarisan nilai ajaran, serta sekolah melalui solidaritas sosial dan iklim sekolah. Tiga model kapasitas resiliensi menjadi dasar strategi masyarakat sikep dalam konsistensi menerima pendidikan formal. Dengan demikian, tiga model kapasitas resiliensi tersebut membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah.
PRAKTIK PILOT PROJECT REFORMULASI PRODUKSI PENYELAMATAN WARISAN BUDAYA TAK BENDA WEDANG ROJO BERBASIS KEMITRAAN GREEN CULTURE BERKELANJUTAN PADA DESA PARIWISATA NONGKOSAWIT Harto Wicaksono; Himmatul Ulya; Annisa Aulia Savitri; Nadia; Candra Prawira Utama; Rizky Firmansyah Saputra
Jurnal Abdi Insani Vol 13 No 3 (2026): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v13i3.3636

Abstract

Kelurahan Nongkosawit, salah satu desa wisata di Kota Semarang, memiliki potensi keanekaragaman hayati berupa tanaman obat tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun melalui minuman herbal Wedang Rojo. Namun, keterbatasan pada aspek standar produksi, higienitas, legalitas, branding, dan pemasaran digital menyebabkan produk ini belum memiliki daya saing sebagai komoditas unggulan desa wisata. Program pengabdian ini bertujuan meningkatkan kapasitas kelompok PKK dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dalam memproduksi dan memasarkan Wedang Rojo secara profesional, higienis, dan berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah Community Based Participatory Research (CBPR) melalui observasi, FGD, pelatihan, pendampingan produksi, reformulasi, penyusunan SOP, rebranding, desain kemasan, serta pelatihan pemasaran digital. Hasil program menunjukkan terjadinya transformasi signifikan, meliputi standarisasi formulasi dan proses produksi berbasis uji laboratorium, peningkatan keamanan pangan, penyiapan legalitas P-IRT, identitas merek baru Wedang Rojo Omah Pang, desain kemasan informatif dan estetis, serta peningkatan literasi pemasaran digital. Uji pasar awal memperlihatkan penerimaan konsumen yang positif terhadap kualitas rasa, tampilan produk, dan narasi budaya. Program ini membuktikan bahwa kolaborasi partisipatoris dan pendekatan green culture efektif dalam menguatkan ekonomi lokal sekaligus melestarikan warisan budaya. Model pemberdayaan ini berpotensi direplikasi pada desa wisata lain yang berbasis komoditas lokal.