Penelitian ini menganalisis idiom-idiom dalam bahasa Sasak yang merefleksikan emosi dan sifat manusia melalui kerangka Teori Metafora Konseptual (CMT). Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif, data dikumpulkan dari berbagai sumber, termasuk kamus standar, korpus daring, dan konfirmasi dari penutur asli. Metode ini memungkinkan identifikasi dan klasifikasi metafora yang digunakan untuk mengonseptualisasikan pengalaman batin. Hasil analisis menunjukkan bahwa metafora emosi dan sifat dalam bahasa Sasak tidak hanya berfungsi sebagai ornamen linguistik, melainkan juga sebagai mekanisme kognitif fundamental. Teridentifikasi beberapa domain sumber yang sangat produktif, seperti hewan, benda padat, dimensi/ukuran, dan tindakan fisik. Masing-masing domain ini dipetakan secara sistematis ke domain target yang abstrak, yaitu emosi dan sifat/karakteristik manusia. Lebih lanjut, temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa pemilihan domain sumber mencerminkan pandangan dunia dan sistem nilai moral masyarakat Sasak. Sebagai contoh, idiom seperti ate basong ‘hati anjing’ dan otak udang ‘kepala udang’ secara konsisten menggunakan domain hewan untuk merepresentasikan sifat-sifat negatif seperti kejahatan dan kebodohan. Sebaliknya, domain benda padat seperti ate waje ‘hati baja’ digunakan untuk mengonseptualisasikan sifat positif seperti ketangguhan. Sementara itu, panas ate ‘panas hati’ memetakan sensasi fisik panas ke emosi amarah, yang merupakan pola universal dalam banyak bahasa. Dengan demikian, studi ini menegaskan peran krusial metafora sebagai alat kognitif dan budaya bagi penutur bahasa Sasak untuk memahami dan mengartikulasikan pengalaman batin yang kompleks. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi kajian linguistik kognitif, khususnya dalam konteks bahasa daerah di Indonesia, serta menekankan pentingnya pelestarian bahasa lokal sebagai cerminan kearifan budaya yang unik dan kaya.
Copyrights © 2025