Krisis air bersih yang terjadi berulang setiap musim kemarau di Desa Purnama, Kecamatan Tegal Ampel, Kabupaten Bondowoso, mendorong dilaksanakannya program penanggulangan melalui pembangunan sumur bor dan jaringan pipanisasi. Program ini melibatkan pemerintah desa, BPBD, lembaga sosial, dan masyarakat sehingga memerlukan tata kelola kolaboratif. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan tata kelola kolaboratif serta peran dan kontribusi antaraktor dalam mendukung pengelolaan air bersih yang berkelanjutan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data mengacu pada model Collaborative Governance Regime yang dikemukakan oleh Kirk Emerson, Tina Nabatchi, dan Stephen Balogh, dengan fokus pada drivers of collaboration, principled engagement, shared motivation, dan capacity for joint action. Hasil penelitian menunjukkan kolaborasi terbentuk akibat krisis air dan keterbatasan sumber daya desa. Musyawarah dan koordinasi memperkuat principled engagement, kesamaan pemahaman membangun shared motivation, serta pembagian peran, integrasi pendanaan, dan pembentukan lembaga pengelola mendukung capacity for joint action. Secara keseluruhan, tata kelola kolaboratif di Desa Purnama berjalan efektif dan mendukung keberlanjutan pengelolaan air bersih.
Copyrights © 2026