Pengembangan sistem transportasi berbasis rel di kawasan perkotaan menjadi salah satu solusi untuk mengurangi kemacetan lalu lintas serta meningkatkan mobilitas masyarakat. Penelitian ini menganalisis pola operasi, headway, jadwal perjalanan kereta api, kapasitas lintas, dan kebutuhan sarana Light Rail Transit (LRT) Jakarta lintas Pegangsaan Dua-Manggarai setelah perpanjangan fase 1B. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan memanfaatkan data observasi, waktu tempuh, jarak antarstasiun, spesifikasi sarana, dan proyeksi demand 107.986 penumpang per hari pada skenario moderat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skenario pertama dengan formasi 1 trainset 2 kereta menghasilkan headway 5 menit, 422 perjalanan per hari, kapasitas angkut 113.940 penumpang per hari, dan kebutuhan 12 trainset. Skenario kedua dengan formasi 1 trainset 4 kereta menghasilkan headway 11 menit, 200 perjalanan per hari, kapasitas angkut 108.000 penumpang per hari, dan kebutuhan 6 trainset. Penyusunan jadwal perjalanan dan visualisasi GAPEKA menunjukkan bahwa kedua skenario masih berada di bawah kapasitas lintas, tetapi skenario pertama lebih unggul dari sisi frekuensi layanan sedangkan skenario kedua lebih efisien dari sisi armada operasi.
Copyrights © 2026