Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen sarana dan prasarana pada pendidikan kejuruan di wilayah perdesaan, dengan fokus studi kasus di SMKS Yapis Santong, Kabupaten Lombok Timur. Kajian ini mengidentifikasi tantangan kritis dalam perencanaan, pemeliharaan, dan pengadaan alat praktik serta merumuskan solusi resiliensi yang relevan dengan konteks lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus lapangan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan kepala sekolah dan pengelola sarana, observasi langsung terhadap kondisi bengkel, serta dokumentasi inventaris aset. Analisis data mengikuti model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian pada tahun 2026 mengungkapkan bahwa tantangan utama meliputi 2 rasio alat praktik terhadap siswa yang kritis (1:8), yang memicu percepatan degradasi fisik alat. Selain itu, terjadi "distorsi pemeliharaan" di mana dana operasional sekolah secara dominan terserap untuk belanja pegawai honorer, sehingga menyisakan alokasi yang sangat minim untuk perawatan preventif. Untuk mengatasi hambatan tersebut, sekolah mengimplementasikan model "Manajemen Resiliensi" melalui inovasi "GuruTeknisi" dan kemitraan "Laboratorium Komunitas" dengan bengkel lokal. Penelitian menyimpulkan bahwa keberlanjutan pendidikan kejuruan di wilayah rural sangat bergantung pada fleksibilitas manajerial dan konsolidasi modal sosial untuk menyubstitusi keterbatasan fiskal. Temuan ini menyoroti perlunya kebijakan distribusi alat yang berkeadilan untuk menjembatani celah kompetensi antara lulusan vokasiperdesaan dan perkotaan.
Copyrights © 2026