Acne vulgaris merupakan satu dari banyak penyakit kulit yang paling sering menyerang remaja dan dewasa muda. Salah satu etiopatogenesis acne vulgaris adalah kolonisasi bakteri Cutibacterium acnes. Penelitian ini bertujuan membandingkan zona hambat yang terbentuk dari pemberian antibiotik topikal dengan probiotik Lactobacillus acidophilus. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental secara in vitro. Aktivitas antibakteri klindamisin fosfat 1,2%, eritromisin 2%, dan probiotik L. acidophilus terhadap C. acnes diuji menggunakan metode difusi Kirby–Bauer. Data diameter zona hambat dianalisis menggunakan uji one-way ANOVA dan uji post hoc. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klindamisin fosfat 1,2%, eritromisin 2%, dan probiotik L. acidophilus menghasilkan rerata diameter zona hambat berturut-turut sebesar 32,0±3,4 mm, 22,6±2,3 mm, dan 14,2±1,2 mm. Hasil uji one-way ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antar kelompok perlakukan (p = 0,001). Uji post hoc menunjukkan bahwa tiap variabel satu dengan variabel lainnya memiliki perbedaan bermakna dalam menghambat pertumbuhan C. acnes, kecuali pada variabel eritromisin dengan kontrol positif. Kesimpulan dari penelitian ini adalah zona hambat yang terbentuk pada pemberian klindamisin fosfat 1,2% adalah yang terbesar, menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri yang lebih kuat terhadap C. acnes dibandingkan dengan eritromisin 2% dan probiotik L. acidophilus.
Copyrights © 2026