Trauma masa lalu sering kali menjadi penghambat signifikan bagi individu dalam mencapai kematangan ekspresi bahasa, baik secara lisan maupun melalui media digital. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi bagaimana pembelajaran bahasa dan literasi digital berperan dalam upaya pemenuhan kebutuhan harga diri (esteem needs) pada tokoh utama dalam novel Trauma karya Boy Candra. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan kerangka psikologi humanistik Abraham Maslow, penelitian ini membedah narasi dan perilaku digital tokoh sebagai representasi dari pencarian validasi diri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa evaluasi terhadap kemampuan berbahasa tokoh utama mengungkapkan adanya kontradiksi; literasi digital yang tinggi digunakan sebagai mekanisme kompensasi untuk membangun citra diri yang ideal di dunia maya, namun struktur logika bahasanya tetap menunjukkan fragmentasi akibat kebutuhan rasa aman yang belum tuntas di dunia nyata. Hal ini membuktikan bahwa penguasaan teknologi literasi tidak serta-merta mencerminkan kematangan psikologis jika kebutuhan dasar pada hirarki Maslow terabaikan. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa evaluasi pembelajaran bahasa dalam konteks literasi digital harus melampaui aspek teknis dan mulai menyentuh dimensi psikologis, di mana kemahiran berbahasa seharusnya menjadi sarana aktualisasi diri yang sehat, bukan sekadar pelarian dari trauma. Dengan demikian, integrasi aspek kesehatan mental dalam literasi menjadi krusial untuk menjamin kualitas luaran bahasa yang autentik dan stabil secara emosional.
Copyrights © 2023