Penelitian ini melakukan kajian pada kondisi ekosistem kerja gig melibatkan sektor on demand transportation services (ODTS) di Indonesia yang menghadapi tantangan dalam hal insentif, perlindungan jaminan sosial, dan komunikasi kebijakan publik. Pengemudi dalam kondisi yang rentan karena relasi kerja yang kurang simetris, kinerja algoritma dari platform, kebijakan pemerintah yang belum memiliki aturan definitif pada pekerja gig, dan tekanan produktivitas yang tinggi karena minat pasar yang meningkat. Penelitian ini mengambil kasus di tiga kota besar yakni Jakarta, Yogyakarta, dan Bali yang dapat memberikan gambaran karakteristik demografis dan geografis. Studi ini menggunakan metode kualitatif dengan mengumpulkan data melalui pembicaraan dan pendapat di sosial media, analisis kebijakan publik, dan diskusi terpumpun pada komunitas pengemudi ODTS di tiga kota. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pengemudi memiliki persepsi skema insentif sebagai hal yang tidak transparan dan sulit dicapai sehingga berdampak pada ketidakstabilan pendapatan dan meningkatnya tekanan kerja. Akses jaminan sosial yang terbatas juga memperkuat kerentanan ekonomi secara jangka panjang. Selain itu cara komunikasi platform yang cenderung satu arah berkontribusi pada terbentuknya sentiment negative dan rendahnya legitimasi kebijakan. Disis lain, pengemudi memandang upskilling sebagai peluang strategis meningkatkan kesejahteraan dan mobilitas sosial. Temuan ini menegaskan pentingnya integrasi insentif, perlindungan sosial dan komunikasi public yang partisipatif dalam membangun ekosistem kerja gig yg adil dan berkelanjutan di Indonesia.
Copyrights © 2026