Penelitian ini menganalisis perbandingan pemikiran pembaruan pendidikan Islam oleh K.H. Ahmad Dahlan, K.H. Hasyim Asy’ari, dan Mohammad Natsir. Masalah utama yang diangkat adalah dikotomi pendidikan pada masa kolonial yang memisahkan ilmu agama dan ilmu umum. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor pendorong dan konsep pembaruan dari ketiga tokoh tersebut. Menggunakan metode analisis komparatif, hasil penelitian menunjukkan bahwa Ahmad Dahlan mengadopsi sistem Barat yang progresif, Hasyim Asy’ari menekankan penguatan adab dalam tradisi pesantren, sementara Mohammad Natsir mengusung konsep integralistik melalui kebijakan nasional. Sebagai kesimpulan, perjuangan kolektif mereka berhasil menghapus dualisme pendidikan dan membentuk fondasi kokoh bagi sistem pendidikan Islam kontemporer di Indonesia. Pemikiran mereka tetap relevan dalam menghadapi tantangan globalisasi dan penguatan karakter bangsa.
Copyrights © 2026